Beberapa Cara Mencegah Fraud di Sektor Perbankan

Beberapa Cara Mencegah Fraud di Sektor Perbankan

Fraud adalah tindakan yang sengaja dilakukan untuk menipu dan mengelabui Bank, nasabah atau pihak lain, yang mengakibatkan kerugian pada pihak yang dikelabui dan keuntungan bagi pelaku fraud baik secara langsung maupun tidak langsung.

Fraud yang sering terjadi pada dunia perbankan umumnya terjadi pada dua sistem yakni sistem Digital Banking dan Pemberian Kredit. Berbagai Bank terus berupaya untuk mencegah fraud dan terus mensosialisasikan bagaimana cara untuk mencegah terjadinya fraud.

6 Cara Mencegah Fraud di Dunia Perbankan

Berikut terdapat 6 cara yang telah kami rangkum dan dapat diterapkan guna mencegah terjadinya fraud di dunia perbankan.

Cek Ulang Data Nasabah

Proses ini bertujuan untuk mengantisipasi adanya nasabah yang mempunyai niat tidak baik yang bisa jadi memanipulasi data laporan keuangan. Selain nasabah, data laporan keuangan supplier juga sebaiknya dilakukan cek ulang.

Memberikan Reward Kepada Penemu Celah

Hal ini guna mengantisipasi fraud pada sistem digital banking, selama ini peretas banyak terkesan negatif. Namun siapa sangka,ternyata di Indonesia ini ada orang-orang yang memiliki profesi sebagai ethical hacker yang dapat ditugaskan untuk mencari bug dan celah keamanan kemudianmampu memperbaikinya.

Jika pihak bank mendapatkan laporan adanya bug dan celah yang tidak disadari oleh pihak IT internal bank itu sendiri, mintalah pelapor untuk mendemokan bagaimana celah itu ditemukan, kemudian berikanlah rewards kepada mereka karena telah membantu bank untuk mengamankan sistemnya dari fraud. Karena jika bank bersikap cuek kepada mereka yang telah berusaha membantu pihak bank, bisa jadi mereka malah menyebarkan bagaimana cara mereka meretas bank di forum-forum berisi peretas, bahkan menyebarkan data penting nasabah.

Pada sistem digital, vendor pihak eksternal yang memiliki ekspertis di bidang ini memang cukup dibutuhkan perannya untuk membantu mengawasi adanya bug atau celah dan hal itu guna mencegah fraud pada sistem digital perbankan.

 

Ciptakan kontrol internal yang baik.

Kontrol internal yang baik paling tidak harus mencakup kontrol lingkungan, sistem akuntansi, dan kontrol prosedur (aktivitas).

Merujuk pada  pernyataan Committee of Sponsoring Organization (COSO): Lingkungan pengendalian menentukan irama organisasi,sebagian besar bertanggung jawab untuk membuat memberi kesadaran terhadap karyawan sehingga dapat waspada terhadap segala kontrol.

Yang perlu ditekankan disini bahwa tidak ada sistemkontrol internal yang kebal terhadap fraud. Efektifitas akan sangat bergantung pada kompetensi orang-orang di bank yang harus memastikan pelaksanaan kontrol internal yang tepat. Sistem kontrol internal hanyalah salah satu elemen program pencegahan fraud yang komprehensif.

Transparansi Kepada Nasabah

Contoh termudahnya mengenai perilaku suap dari nasabah guna mendapatkan kucuran dana dari bank melalui oknum di bank tersebut. Disini bank bisa membuat surat secara periodik kepada nasabah terkait guna menjelaskan mengenai kebijakan perusahaan yang tidak menerima segala jenis suap atau hadiah.

Hal yang juga diharapkan dapat meminimalisir niat nasabah untuk melakukan fraud adalah bahwa bank harus menginformasikan di awalan kebijakan bahwa bank memiliki hak akses yang bisa digunakan sewaktu-waktu untuk mengaudit laporan keuangan nasabah yang memperoleh pinjaman.

 

Tingkatkan Pengawasan Personel

Para pelaku fraud biasanya menggunakan hasil jarahannya untuk mendukung gaya hidup yang mahal. Dengan mengawasi gaya hidup setiap personil dan fasilitas-fasilitas pribadi di sekelilingnya, bank bisa melakukan langkah pencegahan. Sebab, para personel yang berpotensi melakukan fraud seakan-seakan merasakan terus diawasi. 

Hasil yang didapatkan pelaku fraud biasanya digunakan untuk memenuhi gaya hidup. Bank dapat melakukan pencegahan dengan dengan mengawasi setiap personil dari mulai gaya hidup, fasilitas pribadi yang digunakan para personel yang berpotensi melakukan fraud akan selalu merasa bahwa mereka sedang diawasi, sehingga pencegahan akan terjadinya  fraud dapat efektif.

 

Menerapkan EKYC

EKYC adalah proses pengenalan calon nasabah dengan memanfaatkan peran teknologi. Proses EKYC ini dinilai lebih baik dari segi waktu dan keamanan dibanding proses KYC manual yang biasanya dilakukan oleh Bank. Bahkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terus mendorong industri keuangan agar menerapkan EKYC pada proses bisnis mereka, sesuai pada Peraturan OJK Nomor 23/POJK.01/2019 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme di Sektor Jasa Keuangan.

Layanan EKYC seperti IdentifAI yang dikembangkan oleh Nodeflux memungkinkan proses KYC yang lebih cepat dan efisien, calon pelanggan atau nasabah hanya perlu mengambil swa foto (selfie), lalu unggah foto tersebut beserta Nomor Induk Kependudukan (NIK) melalui API atau Web Interface, data yang diunggah tersebut kemudian akan dicocokan (matching) dengan database 1:N ke lebih dari 190Juta data kependudukan yang dikelola oleh Dukcapil, setelah itu akan muncul "similarity result" yang akan dijadikan sebagai acuan pada proses verifikasi.

Melalui EKYC, verifikasi nasabah dilakukan secara online, sehingga pemalsuan data akan sulit dilakukan dan pencucian uang yang merupakan salah satu bentuk fraud dapat dicegah.